Senin, 22 Desember 2008

IJABAH C I N T A


NAMAKU DINDA......

Hari itu udara tidak terlalu panas, terdengar hingar bingar suara kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Jalan Raya tersebut juga merupakan jalan besar yang dapat menghubungkan jalan dari pusat Kota menuju ke Pelabuhan Laut dan Airport. Dipinggir jalan besar tersebut terdapat ruko yang terletak dipinggir jalan raya didaerah kawasan industri perdagangan yang diapit oleh perusahaan perbengkelan dan perusahaan pengolahan Kayu (panglong). Disamping ruko terdapat gang yang tidak terlalu kecil tapi tidak terlalu besar yang cukup dilewati oleh sebuah mobil yang dapat mengakses rumah lain yang berlokasi dibelakang ruko tersebut. Ruko yang terletak dipinggir jalan merupakan tempat usaha seorang nenek dan beberapa cucunya. Usaha yang dilakukan nenek dan cucunya adalah membuka rumah makan atau yang sering disebut Kedai Nasi..yah itulah Kedai nasi nek Mun, begitulah orang-orang memanggilnya.
Tak heran karena posisi ruko tersebut yang sangat strategis sehingga dagangan Nek Mun, sangat laris sekali apalagi ketika setiap pukul 10 pagi sampai jam 2 siang merupakan jam-jam sibuk di Kedai itu. Sebenarnya Nek Mun bukan orang yang susah, peninggalan warisan tanah suaminya seluas + 10 hektar yang terletak didaerah kawasan industri sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghidupi nenek bahkan sampai cucu cicitnya. Bayangkan saja tanah seluas itu sebagian disewakan kepada seorang pengusaha china yang membuka perusahaan perbengkelan dan usaha pengolahan Kayu dimana kedua perusahaan tersebut membutuhkan tanah yang sangat luas karena digunakan sebagai gudang dari bahan bakunya.

Nenek Mun yang berdarah turunan China dan Jawa sedangkan alm.suaminya berasal dari Bugis yang merantau ke daerah Sumatra dimana sifat pekerja keras sudah tertanam dalam darah kedua pasangan tersebut.

Dari perkawinan mereka lahirlah 1 orang putra dan 2 orang putri. Ketika semua anak-anak dewasa dan memiliki keturunan, Nek Mun tinggal sendiri dirumahnya walau demikian Nek Mun masih tetap melakukan aktivitas yaitu berdagang.
Ayolah Ma...tinggal dirumah Dina saja...Mama-kan sudah capek mengurus kita..sekarang ijinkanlah Dina untuk merawat mama....” pinta Dina kepada ibunya (Nek Mun). ” Tidak usah nak biar mama disini saja..biar bagaimanapun mama akan tetap disini karena setiap ruangan dirumah ini memberikan makna dan kenangan mama kepada papamu dan ini akan menambah semangat hidup mama” jawab Nek Mun.

Walau tak kuat menahan tangis Nek Mun berusaha memberikan pengertian kepada anaknya. ” Sudahlah Dina biarkanlah mama disini..percayalah mama masih kuat koq..jika kamu kangen kamu boleh sering-sering membesuk mama tentuya harus ada ijin dari suamimu...Mama juga dulu mengalami hal seperti kamu...Awalnya berat Nak tapi itulah siklus perjalanan hidup...nanti kamu juga akan mengalami hal yang sama seperti mama, yang terpenting kamu bisa menjalani hidup dengan penuh rasa syukur....” Dina pun menangis dan memeluk ibunya.

”Baiklah ma kalau mama tidak ingin tinggal bersama Dina...Biarlah Dinda cucu mama yang akan menemani mama disini, karena sekolah Dinda juga dekat dari sini...bagaimana ma?” tanya Dina. ” Baiklah kalau itu bisa membuat tenang hatimu Mama akan senang..tapi jangan dipaksa kalau Dinda tidak mau disini karena Dinda juga butuh belaian kasih sayang Ibunya yaitu kamu Dina...”

Setelah melalui perundingan antara Ibu Dina dan suaminya maka diputuskan sebagian putra putrinya yaitu Diva, Dani dan Dinda tinggal dirumah Nek Mun untuk menjaga Nek Mun.

Aktivitas dan kehidupan Dinda serta kakak dan neneknya berjalan dengan baik dan tentunya kakak Dinda yaitu Diva yang berperan sebagai orang tua karena umurnya yang terpaut jauh dengan adik-adiknya. Pembagian tugaspun sudah dimulai oleh Diva.

Hari demi hari berlalu seluruh aktivitas berjalan dengan lancar-lancar sesuai dengan pembagian tugas. Namun suatu hari ada kejenuhan yang dialami Dinda..”Nek..kenapa sih kita mesti susah-susah berjualan minuman dan makanan seperti ini bukankan kita sudah lebih dari cukup Nek?? Seru Dinda sambil menggerutu...Nek Mun langsung tersentak mendengar pertanyaan Dinda yang biasanya dia selalu bersemangat membantu neneknya....
” Kenapa Dinda kamu sudah tidak ingin membantu nenek yaa?? Tanya Nek Mun. ”Bukan begitu Nek tapi Dinda malu Nek...kalau ketemu teman sekolah ketika mengantar minuman dan makanan pesanan pegawai Bengkel dan panglong..pasti mereka akan mengejek Dinda Nek....” jawab Dinda sedih.
” Dinda...pekerjaan ini halal sayang..coba bayangkan kalau kita tidak berjualan kasihankan seluruh pegawai bengkel, panglong atau yang lainnya..mereka akan kesulitan untuk mencari tempat untuk makan dan minum...Lagipula kita tidak boleh bermalas-malas walaupun kita memiliki kehidupan yang cukup, satu hal yang paling penting kamu ingat bahwa kelak jika kamu dewasa nanti kamu akan mengerti bagaimana kita harus selalu ingat bahwa kehidupan kita belum tentu selamanya indah dan serba cukup, ketika kamu mengalami kesusahan hidup kamu dapat kuat menghadapinya, inilah yang perlu dipahami nak..lebih baik kita menyiapkan mental yang kuat pada saat sekarang agar tidak rapuh kelak. Belajar hidup susah lebih sulit nak..kalau belajar menjadi orang kaya sangat mudah nak...Pahamilah ucapan nenek Nak....” Jawab Nek Mun kepada cucunya.

Mendengar nasehat neneknya Dinda mulai mengerti bahwa sebenarnya Nek Mun ingin mengajarkan kemandirian terhadap cucunya. Sambil tersenyum dinda berkata ” baiklah Nek..Dinda mengerti maksud Nenek...”Dindapun meneruskan aktivitasnya sambil membawa minuman pesanan bengkel...”Dinda berangkat dulu nek....” sambil menjinjing beberapa gelas minuman...” Hati-hati ya nak...” sahuk nek Mun...

Begitulah setiap hari aktivitas yang dilakukan Dinda dan Dani (kakak laki-laki Dinda) membantu Nek Mun sampai dengan jam 11.00 dan setelah itu mereka berangkat sekolah. Dinda dan Dani seperti anak kembar karena usianya yang terpaut beda 1 tahun sehingga sekolahnyapun bareng dan dikelas yang sama.

Tinggal bersama nenek membuat Dinda dan kakaknya menjadi lebih mandiri terutama dalam mengatur jadwal aktivitas dirumah dan aktivitas disekolah.

Kadang-kadang kalau sedang bosan membantu nenek, Dinda dan kakaknya mencuri waktu untuk bermain dirumah belakang, tak heran jika ketika sang papa datang dan mereka tak berada di ruko sudah pasti tentu papanya marah dan biasanya teriakan pak Wahab dari ruko kerumah belakang seperti sang harimau mengaung memanggil anaknya...dan biasanya mereka lari terbirit-birit kembali ke Ruko karena khawatir papanya akan marah dan biasanya yang kena hukuman adalah Dani kakak Dinda. Memang setiap ada kesalahan pasti Dani yang kena hukum..karena Dani adalah anak laki-laki yang diharapkan pak Wahab bisa menjadi contoh bagi adiknya.
Yah... memang rumah dibelakang ruko sangat asyik karena tanahnya yang sangat luas dan ditanamai berbagai macam buah-buahan tentunya ini adalah hasil usaha kakek Dinda dan papanya agar anak cucunya bisa menikmati hasilnya. Tinggal dirumah Nek Mun merupakan suatu pegalaman yang tidak terlupakan karena begitu banyak hal-hal yang belum tentu dapat dinikmati anak-anak seusia mereka. Lokasi rumah Nek Mun penuh ditanami bermacam-macam tanaman buah disamping itu juga sebagai tempat bermain ayunan, petak umpet, naik sepeda bahkan sangking luasnya area tersebut papa juga memelihara kambing Domba yang hampir 20 ekor dan burung Merpati yang hampir 50 ekor. Sehingga tak heran jika pak Wahab sangat membatasi anak-anaknya untuk bermain diluar lokasi rumah.

MY LOVELY DADY’S.....

Sore itu ketika Dinda baru pulang sekolah...sebuah vespa menderung dan membunyikan klakson yang panjang untuk memberikan tanda kepada penghuni rumah. Klakson itu sebagai pertanda bahwa pak Wahab datang....tak lama kemudian seekor anjing bernama Blacki menyambut kedatangan tuannya sambil melompat-lompat. Blacki adalah anjing kesayangan Dinda yang sangat setia, pintar dan lincah, makanya pak Wahab juga selalu memberikan perhatian padanya disamping anak-anaknya.
Tak lama setelah anjing keluar rumah, seorang gadis cilik mengikuti anjingnya sambil berteriak ” Papa datang....dan iapun berlari menghampiri sang papa tercinta dan memeluk papanya yang baru pulang bekerja.
Pak Wahab menyambut kedatangan putrinya dan memberinya pelukan sambil berkata...Oh putri cantikku sudah makan sayang? Seketika Dinda menjawab sudah pa....” Bagaimana dengan sekolahmu nak? Tanya pak Wahab ”..hari ini Dinda dapat nilai bagus Pa.., tadi sewaktu pelajaran matematika Dinda mendapat nilai 90” sahut Dinda. ” Wah anak papa memang pintar..sahut pak Wahab. ” Papa pasti capek yah?” tanya Dinda..sambil membuka sepatu papanya dan merapikannya ke rak sepatu lalu kemudian Dinda mengambil minuman buat sang Papa dan menyiapkan makanan untuk papanya...Inilah yang selalu dilakukan Dinda kepada papanya..karena setiap siang sepulang dari kantor papanya selalu mampir untuk menjenguk Dinda yang tinggal di rumah neneknya. Sedangkan Pak Wahab, Istri, kakak dan Adiknya tinggal agak jauh dari tempat tinggal neneknya.

Bagi gadis sekecil Dinda apa yang dilakukannya untuk papanya sudah menjadi kebiasaannya dan Dinda sangat senang melakukannya karena sayangnya kepada sang Papa.Namun gadis cilik itu akan kembali sedih ketika sang papa harus kembali kerumah sedangkan Dinda harus tinggal bersama neneknya. Dan sudah menjadi kebiasaan sang Papa untuk menghibur Dinda dan berjanji akan mengajak Dinda pulang kerumah setiap hari Sabtu dan Minggu.
Bagi Dinda bisa bertemu dan berkumpul dengan orang tua dan kakaknya merupakan suatu kebahagiaan yang tak ternilai. Namun demikian tinggal bersama nenek bukan berarti Dinda tidak bahagia melainkan Nek Mun justru mengajarkan kebaikan yang sangat bermanfaat bagi cucunya agar lebih mandiri dan terbiasa untuk mengerjakan tanggung jawabnya.

To be continued.....

Tidak ada komentar: